Cute White Flying Butterfly Lia Selviana: April 2018

April 18, 2018

Bertahun-tahun Dia Gak Bisa Move On, Ini Salah Siapa?

Tuhan, ini salah siapa??

Menjalin sebuah hubungan tentu tak selalu mulus seperti apa yang selalu kita bayangkan. Apalagi hubungan itu terbentuk ketika kamu masih belum mengerti untuk apa sesungguhnya manusia itu hidup. Belum merasakan bagaimana rasanya kehabisan duit, belum pernah merasakan susahnya mencari kerjaan, belum pernah merasakan ditolak perusahaan, bahkan belum pernah merasakan nikmatnya saat gajihan. Yaa alias hubungan itu terbentuk saat kamu masih sekolah atau bisa di bilang cinta monyet.

Dia bukan cinta pertamaku, juga bukan pacar pertamaku, tapi entah bagi Dia aku cinta yang ke berapanya. Kejadian itu sudah 8 Tahun berlalu, dan hubungan itu hanya berlangsung sekitar 1 tahunan. Seperti hubungan-hubunganku dengan laki-laki sebelum Dia, hubungan itu biasa saja, sedikit spesial tapi sungguh tak ada kata serius (untuk menikah dengannya) dalam benakku.


Aku tak pernah berkeinginan untuk menikah muda, sehingga bagiku pacaran selama sekolah ya hanyalah cinta sesaat. Aku tak pernah membayangkannya untuk sampe tahap pernikahan. Namun mungkin ternyata beda dengan apa yang dipikirkan dengan Dia saat itu.

Bertahun-tahun Dia gak bisa move on, ini siapa yang salah?

Sejak perpisahan itu, kami gak pernah hubungan lagi, hingga tiga tahun yang lalu Dia mengirim whatsapp dan tanya bagaimana caraku bisa move on dari Dia, karena saat itu katanya Dia sudah punya tunangan yang sebentar lagi mau dinikahinya (Memutuskan menikah dalam keadaan Dia masih mencintai orang lain yang bukan calonnya??). Saat itu Aku bilang karena Aku sudah tak mencintainya jadi aku bisa segampang itu move on darinya.

Baca juga:
Seingetku saat itu Dia bilang (dengan penuh kejujuran) kalau Dia mencintai wanita lain, dan Aku seketika marah dan minta putus sama Dia. Walaupun sebenarnya alasanku memutuskannya pun sebenarnya bukan hanya hal itu, sebenarnya Aku sudah lama ingin putus dengannya, ya karena apa lagi kalau bukan sudah gak cinta, bahkan sebenarnya saat itu pun aku juga sedang mencintai orang lain (bagian ini yang sampai detik ini gak dia ketahui, karena aku gak mau ngasih tau). Mungkin memang Aku yang jahat, dan yang pantas mendapat karma pun yaa Aku (dapat karma beneran kok, habis kejadian itu, banyaak).

Hingga beberapa hari sebelum aku menulis ini, Aku masih dengar kabar kalau dia belum bisa mobe on. Haayy ini sudah tahun berapa, dan kamu masih saja duduk di masa lalu??? Kemudian sengaja Aku kirim whatsapp ke Dia. Sebelumnya ada grub WA sekolah SMA kami yang didalamnya ada Dia juga Aku.

"enek Lia ning grub kene?" Dia menulis pesan seperti itu, setelah ngobrol banyak dengan teman-teman kami yang lain.

Grub WA itu emang baru di bikin, jadi masih anget-anget nya, wks~

"enek" ku balas begitu setelah beberapa percakapan dibawahnya.

Salah satu teman ada yang menimpali "iki lo sing mbok golek i wes muncul"

"moncrot, metu ae aku ko grub, assalamualaikum bro"
              +6285******* left

Aku bingung dong, apa salahku, apa bukan benda najis, aku sama seperti yang lain, temannya.

Lalu paginya sengaja Aku chat Dia, tanpa basa basi Aku tanya "kenapa keluar dari grub?" kemudian dia bilang "Aku gagal move on, Aku bahkan pernah gagal nikah, gara-gara kamu, tapi sekarang Aku udah punya istri".


Belum bisa move on (sampai sekarang), padahal Dia udah nikah (SUDAH MENIKAH!!).

"Apa aku masih punya hutang? apa aku masih punya salah yang belum bisa Kamu maafkan? Aku udah punya tunangan, sebentar lagi Aku juga mau nikah" balasku.

Dia jawab "Kamu gak salah Li, Aku masih berusaha, makanya Aku gak mau ada dalam grub itu, Aku ingin menjauh, jangan chat Aku lagi ya hehe, dengan kamu nikah Aku akan cepet move on, kalau mau ngasih undangan titipin ke mapud atau sigit yaa" Dia mengakhiri obrolan.

Bertahun-tahun Dia gak bisa move on, siapa yang salah? siapa yang salah? apa salahku? apa aku berdosa?

Kemudian pikiran-pikiran rasa berdosa menghantuiku, bukan karena menyesal dulu telah memutuskannya, atau menyesal tidak menikah dengannya, tapi merasa ini adalah beban, beban karena telah menjadi penghambat kebahagiaan seseoarang.

Doaku semoga Dia dan keluarganya bisa bahagia dunia akhirat. Dan aku bersyukur memiliki tunangan yang (ngakunya sih) gak punya mantan, dan semoga Aku satu-satunya wanita yang dicintainya setelah Ibunya.

April 13, 2018

Jangan Takut Menikahiku, Apapun Jalan Ceritanya, Aku Akan Bersyukur Jadi Pendamping Hidupmu!


Menikah bukanlah akhir tujuan dalam hidup, melainkan sebuah awal. Dan aku sadar itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. Tapi bersamamu aku percaya semua akan baik-baik saja. Bersamamu aku yakin bahwa menikah bukanlah hal menakutkan untuk di lalui.

Aku tau sayang,
Menikah memang tak hanya bermodal cinta, seperti yang kita alami saat ini. Tapi aku tahu, bahwa menikah juga bukan hanya soal materi. Jika kamu takut aku tak bahagia, berhentilah berniat menikahiku. Kamu harus bisa membuatku bahagia, seperti yang dilakukan kedua orangtuaku kepadaku.

Kebahagiaan bukan soal uang, sayang, aku yakin kamu juga tau itu. Bukan juga aku mau hidup menderita, tapi kebahagiaan tidak dihitung dengan banyak atau tidaknya uang yang kita punya.

Jangan pernah takut kalau kamu ternyata bukanlah pria yang selama ini aku harapkan, sampai akhirnya kita berada di titik ini, sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk menerimamu, tentu bukan karena kamu pilihan terakhir atau karena gak ada pilihan lain selain kamu, tapi karena aku yakin, aku yakin bahwa kamu memang bisa membuatku nyaman sebagai tempatku untuk pulang.

Sayang, aku harap kamu juga tak akan kecewa dan menyesal jika pada akhirnya aku juga tak seperti apa yang selama ini kamu harapkan dan inginkan. Tapi aku yakin, bersamaku, kita akan bisa mewujudkan mimpi-mimpi yang pernah kita tuliskan.

Aku sadar siapa aku, jika akhirnya kita bersatu, aku yakin ini adalah berkat doa-doa yang tak pernah putus kamu panjatkan.

Sayang, sekali lagi jangan pernah takut menikahiku.