Cute White Flying Butterfly Lia Selviana: 2018

November 24, 2018

Berhari-hari Menanti, Akhirnya Kini Kau Kumiliki


Menikah...mungkin semua orang ingin merasakannya, begitupun aku. Dari kecil wanita selalu memimpikan menjadi seorang pengantin, dirias menjadi cantik, dan digandeng seorang pria pujaannya.

teman tapi menikah
akhirnya sah


Ya, kini salah satu impianku itu sudah terwujud. Kamu bersumpah menjadi suamiku di hari sumpah pemuda, 28 Oktober, tahun ini.

Aku masih tidak percaya menjadi seorang istri, tapi yang jelas aku akan menjalaninya dengan baik dan bahagia.

August 7, 2018

1 Tahun Menjadi Bagian dari Inten Target Indonesia

ultah 2018

Selamat ulang tahun inten target ku, ini memang yang pertama, tapi semoga bukan menjadi yang terakhir.
Setahun usiamu, setahun pula aku menjadi bagian darimu.

Rasanya seperti baru kemarin aku interview, lewat video call, signal putus-putus, mungkin banyak pertanyaan yang juga tidak terdengar dengan jelas. Kuingin tertawa mengingatnya ya Tuhan....

Aku merasa orang yang paling beruntung bisa bergabung dengan kalian, dengan modal pengalaman pas-pas an, tapi bisa diterima dan dipertahankan sampai detik ini.

Banyak ilmu yang aku terima, banyak pengalaman yang tentu tak akan mudah aku lupakan.

Pertemanan yang menyenangkan dan kebersamaan yang hangat.

Panjang umur dan semakin jaya Inten Target ku.

Terimakasih Inten Target ku yang sudah mewujudkan mimpiku untuk bisa tinggal di Bandung dan bekerja dengan orang-orang yang seumuran.

Udah aja nulisnya, banyakin aja fotonya biar berwarna, karena gambar berbicara lebih kerras dibanding tulisan. ehhee

geng cowo-cowo
foto bersama di bibir kolam renang :-D
geng ciwi-ciwi manjah

sobat misqueen lantai 1
bosquuu

anak magang yang kece
pasangan serasi
waduu duo telat
girang banget neng megang mic....

Masih banyak banget nih yang mau di abadikan, tapi udah aja lah yaa, capek milih nya...


July 23, 2018

Fiks Saya Belum Pantas Tinggal di Bandung!



Bandung bukan satu-satunya kota yang pernah kurantaui. Sebelum merantau ke Bandung aku pernah tinggal di Yogyakarta alias Jogja alias kota istimewa selama kurang lebih 3.5 tahun. Iya.. aku menghabiskan waktu kuliah di kota istimewa itu. Sesuai dengan namanya, ternyata Jogja memang istimewa. 

Tak seperti 2 kota yang selanjutnya aku rantaui, Jogja memang berhati nyaman, nyaman bagi penduduk aslinya, nyaman juga untuk pendatangnya.

Apa yang tak bisa di temui di Jogja? ah rasanya Jogja bisa memberikan semuanya, eh ada satu yang gak diberikan Jogja kepadaku; jodoh.Yaa... aku tak menemukan jodohku disana. 

Sebagai mahasiswa, apalagi mahasiswa uin sukijo, tentu aku hanyalah mahasiswa miskin yang apa-apa maunya murah atau kalau ada justru maunya gratis. upss..

Nah Jogja itu bisa menerima manusia-manusia miskin sepertiku, nasi kucing seribu maratus,  gorengan seribu dapat 3 (ya ampun jaman kapan ini, pasti sekarang udah gak dapet). Itu rasanya nikmat pol, tak ada angkringan enak seperti Jogja, yakin.
monmap males nyari foto, senemunya aja~
Pokoknya Jogja adalah salah satu tempat yang wajib banget untuk di tinggali. Dan aku jamin kamu gak akan bisa pergi begitu saja kalau sudah menginjakkan kaki di tanah itu.

Tiba di kota kedua, untuk sampai di kota tersebut harus menyebrangi laut jawa, yeeaay kota Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Saat orang-orang Pangkalan Bun menyebut bahwa jarang ada orang Jawa yang kenal Pangkalan Bun, justru hanya kota itu yang ku tahu dari Kalimantan Tengah. haha katrok bat gwe...

Tak usah menjelaskan panjang lebar tentang Pangkalan Bun lah yaa, di google sudah ada banyak. Bagiku bisa merantau di Pangkalan Bun adalah suatu keberuntungan, yaa aku merasa beruntung bisa menginjakkan kaki di tanah itu, dimana kamu bisa menjumpai pohon sawit dan pohon karet. 

Jika aku tak merantau ke Pangkalan Bun, aku yakin tak akan tahu rasanya naik kapal (yaa walaupun hanya dua kali, itu pun harus suntik ke dokter dulu supaya tidak mabuk wk). Naik kapal selama kurang lebih 24 jam, bayangin aja di atas laut, gak bisa lihat apa-apa kecuali air dan langit yang menyatu. Tapi ada satu yang membuatku mau lagi jika (terpaksa) harus naik kapal lagi; menikmati sunrise dan sunset dengan bebas tanpa penghalang, sumpah indah banget, ditambah lagi suara deburan ombak yang pecah karena kapal, syahdu (beneran ini).

Jika ada kesempatan, aku masih ingin pergi kesana lagi, tapi hanya main, kalau untuk tinggal menetap, yaa maaf saja, aku tidak sanggup. ehee

Aku tak mau tinggal disana lagi bukan karena disana pelosok, karena dari lahir aku juga tinggal di pelosok, yang tidak bisa menjumpai mall atapun bioskop, tapi ya tolong lah masak dari kecil tidak ada perubahan, hehe. Kalau bisa memilih ya kenapa tidak memilih yang lain, gitu kan?

Ada satu lagi yang bikin terbayang-bayang di kepala, pantai di Pangkalan Bun, adalah satu-satunya pantai yang aku mau nyeburin diri dari ujung kepala hingga ujung kaki, yaitu pantai Tanjung Keluang (lain kali aku tulis soal pantai nya), padahal di kota sebelumnya adalah surganya pantai, tapi aku belum pernah berhasil mandi hingga basah sekujur tubuh. Ohya sebelum sampai di tanjung keluang, harus ke Pantai Kubu dulu, baru bisa nyebrang ke tanjung keluang.

Pangkalan Bun itu Indah, tapi tidak semua yang indah itu bisa bikin nyaman, bukan? :-D

Lanjut kota Bandung, kota yang kujadikan judul pada tulisan kali ini. Yaa, sesuai dengan judulnya, saya belum pantas tinggal di Bandung, kenapa?

Coba sini bilang ke aku kalau nemuin amang-amang atau ibu-ibu penjual makanan atau warteg yang mau pakai bahasa selain sunda kepada pembelinya, coba sini kasih tau aku jalan mana yang penggunanya tertib berlalu lintas, coba sini kasih tau aku, coba!!!!

Bandung adalah kota Impian bagiku, dari jaman SMA aku pengen banget ke Bandung, dan alhamdulillah sekarang kesampaian. 

Saat ini, saat tulisan ini ditulis aku sedang menghirup udara kota Bandung (yang katanya diciptakan ketika Tuhan sedang Tersenyum), hah, 

Aku tak akanenulis banyak tentang Bandung, karena pada kenyataannya saya merasa belum pantas tinggal di Bandung, karena saya belum bisa jawabin pertanyaan-pertanyaan orang sini, boro-boro jawab, ngerti pertanyaannya aja kaga, huhuhu.

Intinya yang menjadikanku belum pantas tinggal disini ya karena tidak sanggup menghadapi orang-orangnya, yaa orang-orangnya sangat menjunjung tinggi bahasa mereka, sehingga meski sedang berbicara denganku yang sumpah kalau ngomong bahasa Indonesia medok banget, yang tentunya orang itu akan langsung tau bahwa aku bukan orang sunda, jadi plis tolong lah yaa gunakan bahasa nasional jangan bahasa daerah, sumpah eug pusyiiing cyyint...

Udah gitu aja sejauh ini pengalamanku tinggal di Bandung, tapi meskipun begitu aku tetep bersyukur bisa ngerasain tinggal di sini, semoga saja bisa dapat pengalaman tinggal di kota lain lagi.

Ohyaa salah satu alasan yang membuatku masih betah tinggal disini karena disini semua ada, dan tentunya sangat beda dengan kota Pangkalanbun, yang bioskop aja gak ada cuuyy...huhuhu

Di Jogja semua juga ada sih, tapi waktu tinggal disana aku masih jadi orang miskin, yang masih suka minta-minta sama orangtua, jadi gak bisa ngapa-ngapain juga walaupun semua ada, kecuali duit di dompetku.

Tapi tetep Jogja masih menduduki peringkat 1 guuuyss...


Kita Pernah Saling Mencintai, Bertemu Satu Kali, Lalu Menikah dengan Pasangan Masing-masing

fotonya gak jelas kayak tulisannya~

Jatuh cinta meski belum melihat rupa? kenapa bisa?
Ya tentu bisa, karena jatuh cinta bisa datang darimana saja, tidak hanya dari pandang, bisa juga dari isi tulisan.

Setahun mungkin bukan waktu yang lama untuk usia pernikahan atau hanya pacaran, tapi bagiku itu waktu yang sangat lama untuk suatu kata pendekatan alias pdkt.

Iyaa...setahun... Aku udah jatuh cinta banget, tapi kamunya malah menghilang. Lalu aku melupakanmu, ya berhasil melupakanmu.

Dunia itu sempit, buktinya kita bisa bertemu. Haha pengen tertawa akutu. Kita bertemu di waktu yang tepat, tepat karena jika aku bukan tunangan orang, mungkin, sangat mungkin aku bisa jatuh cinta lagi denganmu. Untungnya tidak.

Begitu juga kamu, sebulan setelah pertemuan yang tak disengaja itu, kamu menikah dengan orang yang kamu cintai tentunya.

Gak ada penting-penting nya sih aku nulis ini, tapi lucu aja, haha. 

Dulu memang aku sempat membencimu, benci yang teramat benci, karena kamu begitu dalam melukai. Tapi sekarang kalau aku ingat, aku malah pengen tertawa, karena banyak hal yang bisa aku ambil dari kejadian itu, aku rasa begitu juga kamu.

Mengutip dari akun twitter nya @jayakabajay "kalo lo PDKT terus gagal, entah itu karena lo ditolak atau tiba-tiba dia menghilang, jangan terlalu dipikirin & diambil hati. Karena itu artinya dia ngga segitunya sama lo atau lo ngga segitunya buat dia. Simpel. Sesimpel kalian emang ngga ditakdirkan untuk menjalin hubungan."
Itu tweet bener banget, meskipun dulu sempat menggangu pikiranku, tapi aku tak menyesal, karena seiring berjalannya waktu aku tetap bisa menjalaninya.

Untungnya kita pernah bertemu, sehingga aku bisa memaafkanmu dan meminta maaf padamu. Semua memang sudah diatur oleh-Nya.

Tiga bulan lagi setelah kamu menikah, aku juga akan menikah, tentunya dengan orang yang aku cintai. Itu yang selalu ada dalam doaku, menikah dengan orang yang aku cintai dan mencintaiku.

May 5, 2018

Ada yang Lebih Berat dari Sekedar Menahan Rindu, yaitu Harus Berpisah Setelah Bertemu!

kencan ala anak sekolahan di Agro Techno Park Ngawi

Menahan rindu bagi pasangan LDR itu sudah biasa, namun ada yang lebih berat dibanding itu bagiku, yaitu ketika aku harus berpisah denganmu saat kita lagi asik-asiknya bertemu.

Kamu terbuat dari apa sih? kok aku rasanya pengen nempel terus. ehhee

Mungkin ini yang dinamakan nyaman, aku seperti tak butuh apapun ketika duduk berdua denganmu, aku seperti tak ingat rasanya lapar, asal itu ada kamu. Yaa sebelumnya aku tak bisa mengartikan apa itu rasa nyaman, bagaimana dan seperti apa itu rasa nyaman, namun sejak bertemu denganmu, aku bisa merasakan semuanya.

Tak akan bisa dipahami sebelum merasakannya sendiri, dari dulu aku sering mendengar atau membaca; jangan cari pasangan yang cantik, ganteng, atau kaya, tapi carilah yang bisa membuat nyaman.

Sumpah setiap kali aku membaca tulisan atau mendengar kalimat seperti itu, aku merasa bodoh, karena aku benar-benar gak tau nyaman dengan seseorang itu seperti apa, kalau nyaman pake sepatu, nyaman pake baju yaa aku jelas tau rasanya.

Sekarang aku mengerti, ketika aku tak butuh menunjukkan sisi baikku dan tak perlu menyembunyikan sisi burukku dihadapanmu, ketika aku tak akan berusaha menjauhimu walapun aku tahu seberapa banyak kekuranganmu, ketika aku merasa bahwa ketika kita bersama semua terasa baik-baik saja, yaa ketika itu lah aku merasa nyaman bersama seseorang, nyaman bersama mu.

Itulah sebabnya, kenapa ada yang lebih berat dari sekedar menahan rindu, karena duduk berdua denganmu adalah hal yang tak bisa tergadaikan, adalah hal yang sebanding dengan isi dunia.

Itulah sebabnya, kenapa ada yang lebih berat dari sekedar menahan rindu, karena setiap kita bertemu aku harus menghadapi satu kenyataan yang sampai saat ini sulit untuk kuterima; pergi lagi meninggalkanmu.

Semoga gak ada LDR season dua, semoga ketika tiba saatnya kita untuk bersama, jarak tak akan lagi hadir ditengah-tengah kita.

April 18, 2018

Bertahun-tahun Dia Gak Bisa Move On, Ini Salah Siapa?

Tuhan, ini salah siapa??

Menjalin sebuah hubungan tentu tak selalu mulus seperti apa yang selalu kita bayangkan. Apalagi hubungan itu terbentuk ketika kamu masih belum mengerti untuk apa sesungguhnya manusia itu hidup. Belum merasakan bagaimana rasanya kehabisan duit, belum pernah merasakan susahnya mencari kerjaan, belum pernah merasakan ditolak perusahaan, bahkan belum pernah merasakan nikmatnya saat gajihan. Yaa alias hubungan itu terbentuk saat kamu masih sekolah atau bisa di bilang cinta monyet.

Dia bukan cinta pertamaku, juga bukan pacar pertamaku, tapi entah bagi Dia aku cinta yang ke berapanya. Kejadian itu sudah 8 Tahun berlalu, dan hubungan itu hanya berlangsung sekitar 1 tahunan. Seperti hubungan-hubunganku dengan laki-laki sebelum Dia, hubungan itu biasa saja, sedikit spesial tapi sungguh tak ada kata serius (untuk menikah dengannya) dalam benakku.


Aku tak pernah berkeinginan untuk menikah muda, sehingga bagiku pacaran selama sekolah ya hanyalah cinta sesaat. Aku tak pernah membayangkannya untuk sampe tahap pernikahan. Namun mungkin ternyata beda dengan apa yang dipikirkan dengan Dia saat itu.

Bertahun-tahun Dia gak bisa move on, ini siapa yang salah?

Sejak perpisahan itu, kami gak pernah hubungan lagi, hingga tiga tahun yang lalu Dia mengirim whatsapp dan tanya bagaimana caraku bisa move on dari Dia, karena saat itu katanya Dia sudah punya tunangan yang sebentar lagi mau dinikahinya (Memutuskan menikah dalam keadaan Dia masih mencintai orang lain yang bukan calonnya??). Saat itu Aku bilang karena Aku sudah tak mencintainya jadi aku bisa segampang itu move on darinya.

Baca juga:
Seingetku saat itu Dia bilang (dengan penuh kejujuran) kalau Dia mencintai wanita lain, dan Aku seketika marah dan minta putus sama Dia. Walaupun sebenarnya alasanku memutuskannya pun sebenarnya bukan hanya hal itu, sebenarnya Aku sudah lama ingin putus dengannya, ya karena apa lagi kalau bukan sudah gak cinta, bahkan sebenarnya saat itu pun aku juga sedang mencintai orang lain (bagian ini yang sampai detik ini gak dia ketahui, karena aku gak mau ngasih tau). Mungkin memang Aku yang jahat, dan yang pantas mendapat karma pun yaa Aku (dapat karma beneran kok, habis kejadian itu, banyaak).

Hingga beberapa hari sebelum aku menulis ini, Aku masih dengar kabar kalau dia belum bisa mobe on. Haayy ini sudah tahun berapa, dan kamu masih saja duduk di masa lalu??? Kemudian sengaja Aku kirim whatsapp ke Dia. Sebelumnya ada grub WA sekolah SMA kami yang didalamnya ada Dia juga Aku.

"enek Lia ning grub kene?" Dia menulis pesan seperti itu, setelah ngobrol banyak dengan teman-teman kami yang lain.

Grub WA itu emang baru di bikin, jadi masih anget-anget nya, wks~

"enek" ku balas begitu setelah beberapa percakapan dibawahnya.

Salah satu teman ada yang menimpali "iki lo sing mbok golek i wes muncul"

"moncrot, metu ae aku ko grub, assalamualaikum bro"
              +6285******* left

Aku bingung dong, apa salahku, apa bukan benda najis, aku sama seperti yang lain, temannya.

Lalu paginya sengaja Aku chat Dia, tanpa basa basi Aku tanya "kenapa keluar dari grub?" kemudian dia bilang "Aku gagal move on, Aku bahkan pernah gagal nikah, gara-gara kamu, tapi sekarang Aku udah punya istri".


Belum bisa move on (sampai sekarang), padahal Dia udah nikah (SUDAH MENIKAH!!).

"Apa aku masih punya hutang? apa aku masih punya salah yang belum bisa Kamu maafkan? Aku udah punya tunangan, sebentar lagi Aku juga mau nikah" balasku.

Dia jawab "Kamu gak salah Li, Aku masih berusaha, makanya Aku gak mau ada dalam grub itu, Aku ingin menjauh, jangan chat Aku lagi ya hehe, dengan kamu nikah Aku akan cepet move on, kalau mau ngasih undangan titipin ke mapud atau sigit yaa" Dia mengakhiri obrolan.

Bertahun-tahun Dia gak bisa move on, siapa yang salah? siapa yang salah? apa salahku? apa aku berdosa?

Kemudian pikiran-pikiran rasa berdosa menghantuiku, bukan karena menyesal dulu telah memutuskannya, atau menyesal tidak menikah dengannya, tapi merasa ini adalah beban, beban karena telah menjadi penghambat kebahagiaan seseoarang.

Doaku semoga Dia dan keluarganya bisa bahagia dunia akhirat. Dan aku bersyukur memiliki tunangan yang (ngakunya sih) gak punya mantan, dan semoga Aku satu-satunya wanita yang dicintainya setelah Ibunya.

April 13, 2018

Jangan Takut Menikahiku, Apapun Jalan Ceritanya, Aku Akan Bersyukur Jadi Pendamping Hidupmu!


Menikah bukanlah akhir tujuan dalam hidup, melainkan sebuah awal. Dan aku sadar itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. Tapi bersamamu aku percaya semua akan baik-baik saja. Bersamamu aku yakin bahwa menikah bukanlah hal menakutkan untuk di lalui.

Aku tau sayang,
Menikah memang tak hanya bermodal cinta, seperti yang kita alami saat ini. Tapi aku tahu, bahwa menikah juga bukan hanya soal materi. Jika kamu takut aku tak bahagia, berhentilah berniat menikahiku. Kamu harus bisa membuatku bahagia, seperti yang dilakukan kedua orangtuaku kepadaku.

Kebahagiaan bukan soal uang, sayang, aku yakin kamu juga tau itu. Bukan juga aku mau hidup menderita, tapi kebahagiaan tidak dihitung dengan banyak atau tidaknya uang yang kita punya.

Jangan pernah takut kalau kamu ternyata bukanlah pria yang selama ini aku harapkan, sampai akhirnya kita berada di titik ini, sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk menerimamu, tentu bukan karena kamu pilihan terakhir atau karena gak ada pilihan lain selain kamu, tapi karena aku yakin, aku yakin bahwa kamu memang bisa membuatku nyaman sebagai tempatku untuk pulang.

Sayang, aku harap kamu juga tak akan kecewa dan menyesal jika pada akhirnya aku juga tak seperti apa yang selama ini kamu harapkan dan inginkan. Tapi aku yakin, bersamaku, kita akan bisa mewujudkan mimpi-mimpi yang pernah kita tuliskan.

Aku sadar siapa aku, jika akhirnya kita bersatu, aku yakin ini adalah berkat doa-doa yang tak pernah putus kamu panjatkan.

Sayang, sekali lagi jangan pernah takut menikahiku.